Smile’s Crusher


20190725_110038_0000__1564148249_38556

‘Jika satu-satunya cara untuk melindungi senyummu adalah hidupku, maka dengan senang hati akan aku berikan.’⁣⁣
⁣⁣
Malam ini Veidas berubah menjadi kota yang sangat dingin. Badai salju yang beberapa hari ini terjadi, menjadikannya demikian. Sudah dipastikan, tulang-tulangmu akan terasa ngilu jika kau memaksa keluar rumah tanpa mantel penghangat. Namun, ada satu gadis yang tampaknya sama sekali tidak terpengaruh dengan udara beku Veidas. Terbukti, sekarang gadis itu duduk di pinggiran sebuah danau yang ada di pinggiran kota Veidas hanya memakai Midi Dress. Wajahnya yang cantik kini ternodai⁣⁣
maskaranya yang mulai luntur oleh air mata. Hal itu terlihat karena adanya lampu temaram dari kejauhan yang berhasil menyinari tempat itu. Gadis itu sama sekali tidak peduli dengan keadaan danau yang temaram dan sepi. Dinginnya hamparan salju yang langsung menjadi tumpuannya duduk pun sama sekali tidak membuatnya terganggu.⁣⁣
⁣⁣
***⁣⁣
⁣⁣
“Ayolah Ren…, sekali ini saja. Aku kan jarang meminta apapun padamu.”⁣⁣
“Benar, memang jarang, tapi ini sudah sangat keterlaluan. Bagaimana bisa seorang Curer¹ meminta tolong kepada Crusher² untuk menggantikan pekerjaannya?”⁣⁣
⁣⁣
“Sekali…saja.” Kini lelaki yang bernama Nil terlihat agak putus asa. Sesekali dirinya terlihat mengacak rambut panjang ikalnya sebagai pengalihan rasa kesalnya. ⁣⁣
⁣⁣
Sementara itu, lelaki jangkung di depanya sama sekali tidak terpengaruh dengan apa yang barusan Ia saksikan. Lelaki jangkung yang diketahui bernama Ren itu, terlihat hanya mengamati dengan wajah bosan.⁣⁣
⁣⁣
“Ren, kalau aku sedang tidak punya masalah, aku pasti tidak akan meminta bantuanmu. Kau kan tahu, aku kehilangan cincin Curer-ku. Tanpa cincin itu, aku tidak bisa turun ke dunia manusia. Oleh karena itu agar para petinggi tidak mengetahui hal ini, aku harus tetap menjalankan tugasku.”⁣⁣
⁣⁣
Curer¹: Makhluk yang bertugas memberikan hal baik kepada manusia (pemberi senyuman).⁣⁣
Crusher²: Makhluk yang bertugas menghancurkan senyuman manusia yang berhati kotor.⁣⁣
⁣⁣
“Itu salahmu sendiri, setahuku kau satu-satunya Curer yang suka seenaknya melepas cincin tugasmu. Apa ini hanya akal-akalanmu saja supaya kamu tidak turun ke Bumi untuk menjalankan tugasmu?” Kini Ren terlihat kesal.⁣⁣
⁣⁣
“Ayolah…, sekali ini saja. Suatu saat jika kau membutuhkan bantuanku, walaupun nyawaku taruhannya, aku pasti akan membantumu.”⁣⁣
⁣⁣
“Sudahlah, tidak usah berlebihan, aku juga tidak akan meminta bantuanmu. Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?” Karena sudah terlalu kesal akhirnya Ren mengiyakan permintaan temannya itu.⁣⁣
⁣⁣
Dengan wajah bahagia Nil menjawab, “Kau hanya perlu menyebut namanya tiga kali, Avela Dushenka,” sambil mengulurkan selembar kertas begambar seorang gadis.⁣⁣
⁣⁣
“Setelah itu apa? Aku kan tidak mungkin bisa melakukan apa yang biasa kau lakukan.” Ren terlihat sedikit geram.⁣⁣
⁣⁣
“Tenanglah kawan, aku tahu itu. Setelah kau menyebutkan namanya, kau langsung akan berada di dekat gadis itu. Tugasmu hanya perlu mengamati gadis itu dan lapor hasilnya padaku. Dengan begitu, nantinya aku bisa membuat keputusan hal baik apa yang sebaiknya aku berikan pada gadis itu.”⁣⁣
Selagi Nil asik menjelaskan, cincin Crusher berwarna biru safir milik Ren berkedip-kedip tanda dia harus melakukan tugas selanjutnya.⁣⁣
⁣⁣
“Baiklah, waktuku untuk pergi. Kalau aku sudah selesai dengan tugasku, aku usahakan untuk membantumu.”⁣⁣
Avela Dushenka, setelah ketiga kalinya Ren mengucapkan nama gadis yang tadi Nil sebutkan, Ren langsung berada di dalam sebuah rumah yang ukurannya tidak terlalu besar. Pemandangan selanjutnya, Ren melihat gadis kira-kira berusia sekitar dua puluh lima tahun sedang berdiri memaku dengan bekas tamparan di wajahnya. Walaupun tanpa suara, air matanya mengalir begitu derasnya. Kemudian, gadis itu berjalan ke luar rumah tanpa sedikit pun menyadari bahwa dirinya hanya memakai gaun dengan potongan pendek untuk bagian tangannya. Sepertinya, gadis itu juga lupa bahwa sekarang adalah musim dingin. Melihat hal itu Ren hanya bisa mengikuti ke mana gadis itu pergi. Ternyata, gadis itu menuju ke sebuah danau yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya.⁣⁣
⁣⁣
***⁣⁣
⁣⁣
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.35, namun Ela masih saja enggan pergi dari pinggir danau tempatnya bersembunyi. Ya, danau itu merupakan tempat favorit Ela sejak kecil. Karena letaknya yang persis di pinggiran kota, banyak orang malas untuk datang ke tempat itu. Selain itu, datang ke danau dalam keadaan sedingin ini sama sekali tidak ada gunanya. Kita hanya akan melihat hamparan air yang membeku. Namun, bagi Ela itu bukan masalah karena danau itu akan selalu menjadi tempat favoritnya. Terlebih lagi, tempat penuh kenangan dia bersama kakaknya.⁣⁣
⁣⁣
Kini air mata Ela sudah kering, sepertinya matanya sudah terlalu lelah jika harus terus mengeluarkan air mata. Walaupun hati Ela masih sakit, namun dia memutuskan untuk tidak menangis lagi. Jika dia terus menerus menangis, Ela berfikir maka dia hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Selain itu berapa pun air mata yang Ia keluarkan, itu tidak akan mengubah apa pun. Ibunya akan terus menerus bergonta-ganti pasangan entah sampai kapan, dirinya juga akan tetap menjadi anak dari hasil hubungan gelap, orang-orang juga tetap akan membencinya karena dia anak wanita rendahan, dan lagi, satu-satunya orang yang menyanyanginya pun juga tetap tidak akan kembali—kakak laki-lakinya.⁣⁣
⁣⁣
Sebenarnya tubuh Ela sudah menggigil kedinginan. Bibirnya pun biru dan bergetar karena memang udara menjelang tengah malam sangatlah dingin. Namun, hati Ela masih berat untuk kembali ke rumah. Rumah tanpa kakaknya. Rumah yang hanya ada ibunya dan para pelanggannya. Sejak kakaknya meningal, keadaanya rumahnya sudah berubah menjadi rumah bordil. Bau alkohol, rokok, dan laki-laki selalu membuat Ela muak dan tidak betah untuk berada di rumah.⁣⁣
⁣⁣
***⁣⁣
⁣⁣
Sudah hampir satu jam Ren mengamati gadis itu, namun gadis itu tidak bergerak se-inci pun dari tempatnya duduk. Padahal, Ren tahu betul gadis itu sudah sangat kedinginan. Awalnya Ren hanya ingin membiarkan, tapi lama-lama Ren merasa tidak tega. Jika hanya menghentikan gadis itu dari kedinginan, Ren pikir itu sama sekali tidak melanggar aturan para petinggi. Ren pun memutuskan untuk mendekati gadis itu.⁣⁣
⁣⁣
“Bukannya waktu sudah hampir tengah malam, apakah kau tidak merasa kedinginan? Ku lihat tubuhmu sudah menggigil tuh.” Ren merupakan satu-satunya Crusher yang paling jarang berinteraksi dengan manusia, sehingga dia tidak tau bahwa tindakan yang baru saja Ia lakukan membuat lawan bicaranya memicingkan mata serta langsung berdiri karena terkejut dan takut. Dalam menjalankan segala tugasnya, Ren hanya benar-benar mengandalkan kekuatannya. Sehingga pengalamannya berbicara langsung dengan manusia sangatlah minim. Itu sebabnya, ketika Ren berbicara tadi, di mata Ela, Ren hanyalah orang aneh yang tiba-tiba sok kenal dengannya.⁣⁣
Ela berdiri terpaku sambil menatap lurus pria jangkung yang berdiri tepat di depannya. Ela sangat kaget kenapa ada laki-laki dengan tampilan seperti itu di dekatnya. Bagaimana tidak, saat ini Ren menemui Ela dengan baju Crusher-nya. Jubah hitam panjang selutut. Terlebih lagi, tubuh jangkungnya, serta wajah indah simetris yang dipadukan dengan warna alis dan rambut panjangnya yang hitam legam sangat jelas membuat Ren terlihat tidak biasa. Tampilan yang tampan tapi berbahaya. Apakah orang gila? pikir Ela dalam hati. Ela hampir saja melangkah pergi ketika Ren mengulangi ucapannya sekali lagi.⁣⁣
⁣⁣
“Apa kau tidak kedinginan, udara tengah malam kan dingin sekali.” Ren sedikit pun tidak tahu bahwa lawan bicaranya sama sekali tidak nyaman dengan keberadaannya. Bukannya menjawab, Ela malah bergegas pergi meninggalkannya. Apa yang salah? Pikir Ren. Sebelum Ela benar-benar jauh dari jangkaunnya, dengan kebodohannya Ren berkata, “Berhenti.”⁣⁣
Walau hatinya berdebar-debar karena takut dan waspada, namun entah kenapa Ela tetap menghentikan langkahnya. Ela juga tidak mengerti dirinya sendiri saat ini. Reaksi normalnya, seharusnya dia lari secepat mungkin meninggalkan orang asing aneh yang sekarang sok kenal dengannya. Tapi yang dia lakukan malah kebalikannya. Dia justru berbalik menatap lelaki yang entah sejak kapan sudah memegang coat tebal yang terlihat sangat hangat. Dan parahnya lagi, ketika lelaki di depnnya melemparkan coat itu padanya, Ela hanya terdiam dan menerimanya begitu saja. Bahkan, ketika lelaki itu beranjak pergi meninggalkannya sambil berkata, “Pakai itu, itu akan membantu menghangatkan tubuhmu!” Ela tetap terdiam dan mematuhi perintahnya.⁣⁣
⁣⁣
***⁣⁣
⁣⁣
Biasanya, dalam menajalankan tugasnya Ren hanya membutuhkan waktu sekitar satu sampai lima menit. Setelah manusia yang diamatinya tersenyum, maka dirinya akan tahu segala hal yang terjadi pada manusia tersebut. Selanjutnya, dirinya hanya harus memilih senyuman mana yang harus Ia hancurkan. Namun, Ela sangat berbeda dengan semua manusia yang sudah pernah Ia amati. Tidak satu kali pun Ren melihat Ela tersenyum. Tentu saja hal itu membuat Ren kebingungan karena dirinya tidak tahu hal apa yang harus Ia laporkan kepada Nil. Selain itu, ketika Ren ingin bertemu Nil untuk bilang bahwa dia menyerah untuk membantunya, makhluk itu sama sekali tidak menampakkan wujudnya di mana-mana. Ketika Ren bertanya kepada Curer lainnya, mereka hanya menjawab ‘tidak tahu.’ Oleh karena itu, Ren terpaksa mengamati setiap gerak-gerik Ela setelah dia selesai dengan tugasnya.⁣⁣
⁣⁣
Setelah beberapa hari selalu mengamati Ela, akhirnya Ren tahu kemalangan apa yang terjadi pada gadis itu. Ren juga tahu, pada malam saat dirinya bertemu gadis itu untuk kali pertama, ada hal mengerikan yang hampir terjadi pada gadis itu. Ternyata Ela hampir saja dijual kepada salah satu pelanggan ibunya. Itu sebabnya Ela berlari menuju danau yang letaknya kurang lebih lima belas menit dari rumahnya tanpa sempat mengenakan baju penghangat. Mengetahui hal itu, entah kenapa selama seribu tahun dia ditugaskan di dunia, ini kali pertama Ren merasa iba pada makhluk yang disebut manusia. Ingin rasanya Ren melakukan sesuatu hanya demi melihat seulas senyum di wajah Ela. Tapi Ren tahu hal itu tidak mungkin terjadi. Karena jika dia melanggar aturan, entitasnya yang akan terancam.⁣⁣
⁣⁣
***⁣⁣
⁣⁣
Sore ini, Ren kembali mengamati Ela. Walaupun posisi Ren sangat dekat, Ela tidak menyadarinya karena memang Ren tidak bermaksud memperlihatkan wujudnya. Ren sedikit lega karena setidaknya hari ini Ela mengenakan pakaian hangat. Seperti sebelumnya, Ela duduk begitu saja di gundukan tanah yang tertutup rapat oleh salju. Matanya lurus memandang danau yang membeku. Semilir angin dingin menerbangkan beberapa helai rambutnya. Namun lagi-lagi, sepertinya hal itu tidak mengganggunya. Kini Ren berubah pikiran, ingin sekali dia menyapanya. Ren sangat penasaran, adakah sesuatu yang bisa membuat gadis itu tersenyum? Akhirnya Ren sudah mantap memutuskan.⁣⁣
⁣⁣
“Kita bertemu lagi,”kata Ren tanpa basa-basi. Mendengar seseorang yang tiba-tiba berbicara padanya, awalnya Ela sedikit terkejut. Namun, setelah Ela mengetahui itu adalah orang aneh yang sama seperti kemarin, Ela hanya diam dan tidak mengacuhkan. Karena Ela tahu, walaupun tampilannya seperti itu, orang tersebut bukannya orang jahat. Karena terbukti dengan orang itu rela meminjamkan coat hangatnya ketika cuaca sangat dingin. Walaupun sebenarnya Ela tidak tahu, Ren sama sekali tidak membutuhkan hal-hal seperti itu. Oh, benar Coat, kata Ela dalam hati.⁣⁣
⁣⁣
“Apa kau datang ke sini untuk meminta coat mu?” Tanya Ela sambil memandangi Ren dengan tatapan yang sudah biasa saja tanpa rasa curiga. Melihat Ela yang mengajaknya biacara, tanpa ragu Ren memosisikan dirinya untuk duduk di sebelah Ela.⁣⁣
⁣⁣
“Tidak, kebetulan saja aku menyukai tempat ini dan kau ada di sini, jadi kita bertemu lagi.” Jawab Ren sambil menyunggingkan seulas senyum. Namun, orang yang diajaknya tersenyum justru tidak mempedulikannya dan kembali menatap hamparan air yang membeku. Diam dan dengan tatapan kosong. Ren pun bingung tidak tahu harus berbuat atau berkata apa. Suasana canggung pun tercipta. Ren mengutuk dirinya sendiri yang tidak banyak memiliki pengalaman berinteraksi dengan manusia. Ren bermaksud menyerah dan bangkit hendak pergi meningalkan tempat itu.⁣⁣
⁣⁣
“Apa yang Tuan Aneh sukai dari tempat ini,” tanya Ela.⁣⁣
⁣⁣
“Tuan Aneh? siapa? Aku?” Ren bertanya bingung sambil menunjuk dirinya sendiri. Melihat yang ditanya hanya diam saja Ren kembali berkata, “Apakah tampilanku seaneh itu?” Namun Ela masih saja terdiam. Baiklah aku menyerah, batin Ren.⁣⁣
Aku menyukai tempat ini karena ada kamu di sini. Tapi tidak mungkin Ren menjawab seperti itu, alhasil hanya, “Karena tempat ini indah,” kata itu yang terucap dari mulutnya. Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Ren, Ela kembali sibuk dengan pikirannya sendiri.⁣⁣
⁣⁣
Sejak pertemuan yang kedua, Ren selalu datang menemui Ela setiap gadis itu berada di pinggir danau. Padahal, Nil sudah tidak lagi memintanya untuk membantunya. Ren juga tidak mengerti kenapa ada sesuatu yang menusuk dadanya jika satu hari saja dirinya tidak melihat Ela. Wajah sedih Ela dan tatapan kosongnya, membuat Ren ingin melindunginya dan selalu berada di dekatnya. Ren merasa, ada perasaan sesak tapi membahagiakan hanya dengan dirinya melihat wajah Ela.⁣⁣
⁣⁣
Kedatangan-kedatangan Ren sedikit banyak membuat hubunganya dengan Ela menjadi lebih dekat. Paling tidak, Ren tahu bagaimana dirinya harus bersikap di depan gadis itu. Misalkan, sesekali Ren melontarkan pertanyaan-pertanyaan konyol hanya untuk memecahkan suasana. Namun tetap, usahanya sia-sia dan belum ada satu pun senyum yang berhasil Ren lihat. Pernah sekali waktu karena saking penasarannya Ren memberanikan diri bertanya, “Apakah ada orang di dunia ini yang berhasil membuatmu tersenyum?”⁣⁣
⁣⁣
“Kakakku,” tanpa basa-basi Ela menjawab. Ren pun langsung terdiam karena dirinya tahu, kakak Ela sudah tidak lagi di dunia ini.⁣⁣
⁣⁣
***⁣⁣
⁣⁣
“Kau sudah gila Ren. Tidak sadarkah kau, permintaanmu itu bisa mengancam keberadaanmu.” Nil berkata sambil mencak-mencak karena dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran sahabatnya.⁣⁣
⁣⁣
“Hatiku sakit setiap melihatnya. Hidupnya terlalu malang.” Jawab Ren jujur.⁣⁣
⁣⁣
“Ren, apakah kau lupa? Kita mahkluk yang seharusnya tidak memiliki hati terlebih lagi terhadap manusia.”⁣⁣
⁣⁣
“Kau sudah berjanji padaku, kau akan membantuku apapun itu, walau nyawamu taruhannya.”⁣⁣
⁣⁣
Kini Nil terdiam dan menyesal dirinya pernah berjanji seperti itu. “Sejak kapan kau belajar rasa yang biasanya membuat para manusia menderita? Itu adalah rasa terkutuk, kau harus membuangnya,” Sungut Nil.⁣⁣
⁣⁣
“Aku sudah mencobanya dan aku tidak bisa, makanya aku menyerah. Sudahlah, kau hanya perlu menyanggupi keinginanku. Kalau aku sudah siap, aku akan menemuimu. Saat itu tiba, apapun yang terjadi kau harus mengabulkan permohonanku. Dan tolong rahasiakan hal ini dari para tetinggi.” Setelah berkata demikian, Ren begitu saja pergi meninggalkan Nil yang masih kebingungan.⁣⁣
⁣⁣
***⁣⁣
⁣⁣
Sudah beberapa hari ini Ela tidak bertemu dengan orang itu. ‘Tuan Aneh’ dia memanggilnya, karena memang Ela tidak pernah menanyakan siapa namanya. Sebenarnya kebersamaan mereka berdua juga lebih banyak dilalui dengan saling diam. Namun, entah kenapa Ela tetap merasa senang. Dengan keberadaannya, Ela merasa bahwa di dunia ini masih ada seseorang yang memperlakukan dia sebagai seorang manusia. Hanya dengan mengetahui ada orang di sampingnya yang rela duduk diam berjam-jam untuk menemaninya, cukup membuat Ela merasa bahagia. Hal itu membuat Ela berani berfikir bahwa dirinya tidak benar-benar sendiri. Ela juga berfikir, jika dirinya butuh pertolongan, Tuan Aneh pasti mau menolongnya. Kini Ela benar-benar merindukan pertanyaan-pertanyaan aneh yang terkadang Tuan Aneh ucapakan, seperti “Apa kau takut gigimu akan rontok jika tersenyum?” Atau “Apakah rahangmu tidak kaku jika kau selalu diam?” Ela sungguh merindukan keberadaannya, dirinya juga mulai menyesal kenapa dia tidak sekali pun menanyakan namanya dan malah memanggilnya Tuan Aneh. Karena sebenarnya Ela tahu, orang itu tidak seaneh itu. Kini Ela berjanji, jika bertemu Tuan Aneh nanti, dia akan menanyakan namanya.⁣⁣
⁣⁣
Sudah hampir satu bulan Ela tidak bertemu dengan Ren. Hal itu membuat Ela sangat bersedih. Entah kenapa, ada rasa perih yang menjalar memenuhi hatinya. Tidak terasa, butiran cairan hangat sudah mengalir deras di pipinya. “Tuan Aneh,” ucapnya lirih.⁣⁣
⁣⁣
“Sudah kubilang, kau harus tersenyum kenapa malah menangis?” Ucap suara familiar yang entah sejak kapan sudah ada di dekatnya. Ela menoleh dengan tatapan terkejut sekaligus bahagia.⁣⁣
⁣⁣
“Sejak kapan Tuan berdiri di situ?⁣⁣
⁣⁣
“Sejak kau memanggilku.” Jawab Ren sambil mendekat untuk duduk di sebalah Ela.⁣⁣
⁣⁣
“Mana mungkin paman mendengarnya. Tidak, yang lebih penting, paman tidak akan menghilang lagi kan?” Tanya Ela penasran.⁣⁣
Namun, bukanya menjawab, Ren malah memasang wajah yang terlihat begitu sedih.⁣⁣
⁣⁣
“Tuan…?”⁣⁣
⁣⁣
“Maaf, sebenarnya ini adalah kali terakhir aku bisa melihatmu.”⁣⁣
⁣⁣
“Kenapa bisa seperti itu,” tanya Ela tidak percaya dengan apa yang baru saja Ren katakan.⁣⁣
⁣⁣
“Aku ada tugas di tempat lain. Tempat itu sangat jauh dari tempat ini, jadi aku tidak akan bisa ke tempat ini lagi.”⁣⁣
⁣⁣
“Katakan, tuan bukan orang yang benar-benar aneh kan, tuan tahu apa fungsi pesawat kan?”⁣⁣
⁣⁣
“Tidak-tidak…, ah sudahlah aku tidak bisa menjelaskannya, intinya ini kali terakhir aku menemuimu dan aku tidak akan pernah datang lagi ke tempat ini.” Kini Ren mulai bangkit dan hendak melangkah pergi.⁣⁣
⁣⁣
“Lalu, bagaimana dengan aku? Bukannya tuan bilang ingin sekali melihat senyumku? Aku rasa, aku bisa tersenyum jika tuan terus menerus bersamaku.” Ucap Ela sambil mulai meneteskan air mata lagi.⁣⁣
⁣⁣
Melihat Ela yang mulai menangis, Ren tidak tahan jika dia harus diam saja, maka dia bergerak maju dan memeluk gadis itu. Kini Ela sesenggukan di dalam pelukan Ren. ⁣⁣
⁣⁣
“Jika kau benar-benar membutuhkanku, percayalah aku akan selalu ada di hatimu. Aku tahu, sebenarnya kau adalah gadis yang tegar, percayalah kau pasti akan bisa melupakanku.” Kini Ela hanya terdiam sambil mendongak menatap wajah Ren yang begitu dekat.⁣⁣
⁣⁣
“Siapa namamu?” Tanya Ela dengan suara parau.⁣⁣
⁣⁣
Ren memberikan jawaban yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan Ela,”Avela Dushenka, hembusan kebahagiaan, arti namamu sangat indah. Aku mau, kau menjadi orang yang seperti itu.”⁣⁣
⁣⁣
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” Sungut Ela.⁣⁣
⁣⁣
“Baiklah, sekarang aku benar-benar harus pergi.” Ren berkata demikian sambil benar-benar melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah dia terhenti, “Terimakasih atas semua rasa yang kau ajarkan padaku. Ku harap, di kehidupanku yang lain takdir kita tidak serumit ini.”⁣⁣
⁣⁣
Langkah Ren berubah menjadi kilatan cahaya yang sangat cepat, yang hanya meninggalkan dengungan aneh di telinga Ela, “Ren, begitu kau harus mengingatku.” Kini Ela bersimpuh di tumpukkan salju yang sangat dingin. Kepalanya berdenyut-denyut hebat. Ada tekanan yang begitu menyesakkan dadanya. Isi perutnya juga mulai terasa berputar-putar. Karena tidak kuat lagi, Ela pun terkapar di atas hamparan salju yang dingin.⁣⁣
⁣⁣
***⁣⁣
⁣⁣
“Bagaimana, apakah kau berhasil mendapatkan buku takdir?” Tanya Ren dengan tidak sabar.⁣⁣
⁣⁣
Nil hanya bisa pasrah sambil menyodorkan buku takdir yang Ren inginkan. “Baiklah, ayo kita mulai ritual Akaraaka3,” ajak Ren tidak sabaran.⁣⁣
⁣⁣
“Sebegitu pentingnya kah manusia itu untukmu, bagaimana dengan sahabatmu? Apakah kau sudah benar-benar tidak bisa mendengarkanku?”⁣⁣
⁣⁣
“Maaf,” hanya kata itu yang keluar dari mulut Ren.⁣⁣
⁣⁣
“Setelah kau melakukan ritual ini, keberadaanmu tidak akan ada lagi di dunia ini. Kau akan menghilang, manusia tercintamu itu dan bahkan semuanya Muoe4 seperti kita juga akan melupakannmu.”⁣⁣
⁣⁣
“Aku sudah memikirkannya, dan aku sudah mantap dengan pilihanku Nil.”⁣⁣
⁣⁣
Melihat temannya yang sepertinya sudah tidak mempan dibujuk menggunakan apapun akhirnya Nil menyerah. Nil berdiri di depan Ren sambil memegang buku takdir. Di depannya, Ren berdiri dengan ekspresi mantap sambil memegang sebuah pisau bergambar Moue kecil dengan empat sayap. Dengan gesit, Ren menggoreskan pisau kecil itu ke telapak tangannya. Setelah darah mengucur keluar, segera Ren meneteskan darah itu ke halaman buku takdir di mana semua takdirnya tertulis di sana. Setetes, dua tetes, tiga tetes, dan akhirnya Ren mengucapkan sumpahnya.⁣⁣
⁣⁣
“Aku Ren sang Moue yang bertugas sebagai Crusher, dengan tetesan jiwa murniku yang kini telah mengotori buku takdirku sendiri, aku dengan senang hati menukarkan takdirku dengan takdir seorang manusia bernama Avela Dushenka. Aku ingin, takdirnya berubah menjadi takdir yang bahagia. Yang paling penting, aku ingin senyuman selalau menghiasi wajahnya. Dan yang terakhir, aku Ren sang Moue mengizinkan buku takdir untuk menghapus keberadaanku.”⁣⁣
⁣⁣
***⁣⁣
⁣⁣
Akaraaka³: ritual pergeseran atau penggantian takdir.⁣⁣
Moue: angels⁣⁣
⁣⁣
“Ela, bangun kita akan terlambat.” Kata Ian kakak Ela sambil terus menggoyangkan tubuh adiknya yang belum juga membuka mata.⁣⁣
⁣⁣
“Ini kan masih sangat pagi, biarkan aku tidur sebentar lagi,” jawab Ela dengan malas.⁣⁣
⁣⁣
“Kamu lupa? Ini kan hari ulang tahun ibu, kita sudah berjanji berjanji akan mengajaknya ke museum seni favoritnya seharian.”⁣⁣
⁣⁣
“Uh, bakal membosankan.” Gerutu Ela sambil bernjak bangun. “Baiklah sekarang kakak keluar, karena aku harus mandi.” Tanpa ampun Ela menyuruh kakaknya keluar.⁣⁣
⁣⁣
Hari ini benar-benar hari yang membahagiakan. Kakanya yang selalu punya segudang alasan untuk pulang ke rumah, kini ada bersamanya dan merayakan hari ulang tahun ibu mereka tercinta. ⁣⁣
“Kenapa kau melamun,” Tanya Ian.⁣⁣
Sambil menyunggingkan senyuman Ela menjawab, “Tidak, aku hanya berfikir, sepertinya kakak perlu menghabiskan waktu berdua bersama ibu. Setelah ibu kembali dari rest room nanti, kakak harus mengajak ibu ke lantai atas untuk melihat lukisan favoritnya. Tidak apa-apa aku akan menunggu di sini.”⁣⁣
⁣⁣
Sepeninggal kakak dan ibunya, Ela berjalan-jalan seorang diri. Dia berjalan mengelilingi lukisan-lukisan yang sama sekali tidak Ia mengerti. Namun, lukisan di pojok ruangan memaksa kakinya untuk melangkah mendekat. Smile’s Crusher judul lukisan tersebut. Sebenarnya, lukisan itu hanya menampilkan seorang pria berambut panjang dengan jubah hitam sampai lutut yang sedang memegangi sebuah pisau bergambar seorang malaikat kecil bersayap empat. Perpaduan yang sangat aneh. Namun, sorot matanya yang tajam membuat lukisan pria itu terlihat sangat tampan sekaligus berbahaya. Ela begitu menikmati memandangi lukisan itu. Lukisan itu seperti mengajak Ela untuk mengenang sebuah dunia yang berbeda. Karenanya, Ela merasa ada perasaan gemuruh yang tiba-tiba memenuhi hatinya, perasaan rindu dan bahagia. Saking terhanyutnya Ia dengan perasaan itu, tanpa sadar dirinya mengucapkan kata “Ren,” sambil menitikkan air mata.⁣⁣
⁣⁣
‘Cinta adalah rasa terkutuk yang menyesakkan sekaligus membahagiakan.’



Categories: Indonesian Short Stories

Tags: , ,

2 replies

  1. Miss do you have another story?

    Like

Leave a Reply to Riza Indriyasta Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: