Masih Di Bawah Umur


20190803_201147_0000

“Wak Hamid, ada orang dari POLSEK yang ingin bertemu.”
Entah, ini kali keberapa Abdur, keponakan uwak Hamid memanggilnya. Hatinya masih saja berat untuk menemui orang-orang berseragam itu. Karena dirinya yakin, hasilnya akan tetap sama.
Uwak Hamid kembali mengaduk cangkir kopi ketiganya. Entah sudah berapa lama dirinya hanya duduk di ruang tamu, termangu, dan tidak menghiraukan apa-apa. Bukannya menanggapi panggilan keponakannya, uwak Hamid justru menyalakan putung rokok kelobotnya yang masih tinggal separuh. Dirinya masih tidak habis pikir, anak satu-satunya tiga hari lalu baru saja meninggalkan dirinya untuk selamanya. Lebih parahnya lagi, cara perginya sangatlah tidak biasa dan teramat menyakitkan.
Setelah membasahi bibirnya dengan kopi hitamnya, uwak Hamid menghisap rokok kelobotnya. Seiring dengan hisapan-hisapan yang ia lakukan, pikiranya kembali terpusat pada kejadian-kejadian sebelum anaknya pergi.
***
“Pak, bisa bicara sebentar?” Kata Hakim sembari meletakkan tas kerjanya di atas meja. Sejak ibunya meninggal ketika Hakim masih berusia tujuh tahun dan ayahnya menikah lagi, Hakim menjadi sangat dekat dengan ayahnya. Walaupun ibu barunya memperlakukan Hakim dengan sangat baik tak ubahnya anak kandung sendiri, Hakim memilih bercerita apapun masalah yang dihadapinya pada ayahnya.
Melihat anaknya yang sepertinya mempunyai masalah serius yang ingin dibicarakan, uwak Hamid hanya mengangguk dan menyuruh anaknya duduk. “Ada apa?” Tanyanya.
“Pak, apa saya berhenti saja mengajar di SMA Pelita? Sepertinya saya tidak cocok untuk menjadi guru.” Kata Hakim sambil terduduk lesu.
Mendengar anaknya berkata demikian, uwak Hamid bukanya kaget malah justru balik bertanya, “Kenapa, apa karena kau kasihan Ranti dan ingin pergi merantau?”
“Bukan pak, ini bukan masalah gaji yang kecil, saya hanya merasa gagal membimbing anak-anak.”
“Apa ini masih tentang lima anak-anak yang kamu bicarakan waktu itu?” Tanya uwak Hamid meyakinkan.
“Iya pak, mereka tetap tidak mendengarkanku. Setelah teguranku yang pertama, mereka malah seolah-olah menantang. Dan hari ini, bukan hanya Miras yang mereka bawa ke sekolah tetapi juga banyak pil kecil-kecil berwarna kuning. Saya takut itu adalah pil terlarang.” Ucap Hakim dengan wajah yang terlihat gusar dan khawatir.
“Bagaimana kamu yakin itu pil bukan permen?” Tanya uwak Hamid.
“Seperti sebelumnya, kelima anak tersebut bolos mata pelajaran saya. Saya pikir, anak-anak itu pasti ke area belakang sekolah, area di mana anak-anak itu biasa berkumpul. Benar saja, ketika saya datangi, anak-anak itu sedang menenggak Miras dan ada yang menggenggam pil berwarana kuning yang langsung disembunyikan begitu saya datang. Normalnya, kalau itu permen tidak mungkin mereka tidak ingin saya melihatnya.” Tutur Hakim dengan penuh emosi.
“Apa kau sudah pernah coba membicarakannya dengan pihak sekolah?”
“Sudah pak, saya sudah membicarakannya dengan guru Bimbingan Konseling. Tapi kata beliau itu urusan sekolah. Selain itu, beliau juga kurang mempercayai ucapan saya, beliau tidak percaya bahwa dari kelima anak yang saya sebutkan, ada anak pak Badrun yang merupakan donatur terbesar SMA Pelita.”
***
“Kek, ayah mana, kok tidak pulang-pulang?” Ucapan Ranti cucunya yang baru berumur empat tahun membuyarkan lamunan uwak Hamid. Seketika itu juga, beban di dadanya yang tadinya Ia rasakan hanya sebesar gunung, kini bertambah berat dan tidak lagi bisa didefinisikan dengan kata-kata. Kerongkongan uwak Hamid tercekat, matanya yang sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan air mata terasa perih. Uwak Hamid tidak tahu alasan apa yang harus Ia berikan pada cucu satu-satunya yang masih terlalu kecil untuk mengerti semua kejadian. Alhasil, dirinya hanya terdiam dan mengusap kepala Ranti dengan lembut. Melihat kakeknya yang hanya terdiam, Ranti berlalu pergi untuk mencari ibunya.
Uwak Hamid menyesal, kenapa dirinya tidak mengizinkan saja ketika anaknya bermaksud menyerah untuk mengajar di SMA Pelita. Kini setelah semuanya terjadi, siapa yang akan bertanggung jawab? Siapa yang akan menafkahi Ranti dan ibunya? Apakah pihak sekolah, orang tua para pelaku, atau bahkan pemerintah? Tidak mungkin. Kini uwak Hamid memijit keningnya untuk meringankan denyutan di kepalanya yang terasa semakin hebat. Uwak Hamid selalu mengajukkan banyak pertanyaan pada dirinya sendiri yang pada akhirnya, dirinya pula yang berusaha mencari jawabannya.
Sehari setelah kejadian, pihak sekolah SMA Pelita mendatangi rumah uwak Hamid. Mereka meminta maaf dan mengakui pihaknya khilaf serta akan memberikan hukuman kepada para pelaku. Pihak sekolah juga meminta agar uwak Hamid bisa bekerjasama untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan mengingat para pelaku pengeroyokan masih di bawah umur. Uwak Hamid mencengkramkan tangannya di atas meja, dirinya geram dengan alasan pihak sekolah memaafkan para pelaku pengeroyokan yang sudah menghilangkan nyawa anak satu-satunya. Di bawah umur, cih, apakah mereka tidak berpikir, anakku juga mempunyai buah hati yang bahkan jauh lebih di bawah umur, batin uwak Hamid semakin geram.
Tidak lama setelah pihak sekolah mendatangi rumah uwak Hamid, perwakilan dari orang tua para pelaku juga mendatangi kediammannya. Perwakilannya merupakan seorang pengacara yang bertitel. Pengacara itu mengatakan, para kliennya meminta maaf karena tidak bisa datang secara langsung karena banyaknya urusan bisnis. Setelah panjang lebar berbasa-basi, pada intinya tetap sama, para orang tua pelaku juga ingin masalah ini diselesaikan dengan kekeluargaan. Melalui perwakilannya, para orang tua pelaku juga mengatakan siap memeberikan kompensasi sebesar apapun agar para anaknya tidak dipenjarakan. Lagi-lagi alasannya sama, mereka masih di bawah umur.
Enak sekali mereka, bisa kabur dari perbuatan kejamnya yang bahkan menghilangkan nyawa seseorang. Parahnya lagi, seseorang tersebut adalah gurunya sendiri. Gurunya yang bermaksud baik menegur anak-anak yang tidak biasa untuk mengehentikan aktifitas minum-minuman keras, terutama di lingkungan sekolah. Katanya ini negara hukum yang mana setiap warganya bisa mendapatkan keadilannya sendiri-sendiri. Jika memang benar, kenapa tidak dengan anakku. Anakku yang dikeroyok sampai mati. Dan kini dari segala pihak mendesakku agar mengikhlaskan dan menyelesaikan masalah ini dengan kekeluargaan hanya karena para pelaku masih di bawah umur. Jika begitu, kenapa tidak para orang tuanya saja yang mendekam di balik jeruji besi? Hati uwak Hamid memanas dan semakin emosi.
***
Setelah beberapa hari menghindar dari para polisi yang ingin menemuinya, kini akhirnya uwak Hamid bersedia untuk menemui orang-orang itu. Ketika uwak Hamid datang ke ruang tamu, sudah ada dua orang berseragam yang menunggunya di sana. Mereka berdua memperkanalkan diri sebagai pak Atma dan pak Kodir yang bertugas menangani kasus pengroyokan yang dialami Hakim. Setelah mereka bertiga berjabat tangan, mereka duduk dan mulai berbincang-bincang.
“Begini pak, maksud kedatangan kami kesini adalah untuk menyelesaikan masalah yang belum selesai.” Kata pak Atma memulai pembicaraan.
“Bagian mana yang menurut kalian belum selesai? Karena bagiku maslah ini sudah selesai. Keputusanku tetap sama, aku tidak ingin masalah ini berakhir hanya dengan kekeluargaan.” Kata uwak Hamid dengan tegas.
“Pak, tapi semua pelakunya masih di bawah umur, mereka masih harus mengenyam pendidikan. Mereka masih harus berubah agar menjadi lebih baik dan mempunyai mimpi,” timpal pak Kodir.
“Lalu bagaimana dengan anakku, apa kalian pikir anakku tidak mempunyai mimpi? Anakku punya itu, dan kalian tahu, sekarang mimpinya sudah terhenti.”
“Pak, kami meminta untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan bukan serta merta kami tidak melakukan apa-apa. Kami akan memasukan para pelaku ke panti rehabilitasi khusus anak-anak nakal. Dengan begitu, kita berharap anak-anak itu bisa berubah dan mempunyai masa depan yang cerah.” Kata pak Atma.
“Ini sungguh tidak adil, kalian hanya peduli pada para pelaku dan malah lupa dengan penderitaan korban. Apa kalian tidak berpikir? Hakim anakku juga mempunyai keluarga yang masih sangat membutuhkan kehadirannya. Anaknya baru berusia empat tahun, apa kalian bisa menjelaskan apa yang terjadi pada anak seusianya?”
“Tapi pak,” belum sempat pak Kodir kembali bicara, uwak hamid sudah menimpali.
“Kalau memang peraturannya mengatakan, tidak bisa menahan anak usia di bawah umur, kenapa kalian tidak menunggu mereka dewasa kelak. Keluarga kami tidak apa-apa, asalkan mereka tetap harus masuk penjara. Mereka harus menuai apa yang mereka perbuat, entah sekarang atau di masa depan.”
***
Setelah orang-orang berseragam pergi, uwak Hamid masih saja duduk diam di ruang tamu. Di hadapanya ada selembar surat pernyataan damai. Dirinya tidak habis pikir, orang-orang kaya itu tetap mendesakknya dengan berbagai cara agar dirinya merelakan kepergian anaknya dan tidak menuntut. Bagaimana mungkin, hidup bukan hanya melulu tentang uang. Ini tentang keadilan dan pertanggung jawaban. Selain itu, ini juga tentang berbaikan moral. Jika para pelaku dengan mudahnya mendapat maaf dengan dalih masih di bawah umur, maka nantinya pelaku-pelaku lain akan menjamur di luar sana. Tentunya tidak hanya di SMA Pelita. Jika sudah begitu, apabila nanti ahklak orang-orang negeri ini hancur, siapa yang akan diperslahkan? Lagi-lagi pasti guru yang mendidiknya juga yang kena. Alasan gurunya tidak bisa mengajar, cara mengajarnya membosankan, ataupun guru yang tidak kompeten.
“Sungguh malang nasib kalian, wahai anakku dan negeri ini.” Ucap uwak Hakim lirih, sambil merobek-robek kertas di depannya menjadi banyak bagian.
********************************

Kisah ini merupakan asli karya penulis. Memang benar, kisah ini terinspirasi dari kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Nama tempat dan tokoh juga hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tempat atau tokoh, ini adalah murni cerita tanpa unsur kesengajaan.



Categories: Indonesian Short Stories

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: