Astha Kiwa


20190725_115204_0000
Di sebuah kebun yang letaknya tidak jauh dari pemukiman penduduk, hiduplah sebuah keluarga burung Kepodang. Keluarga tersebut terdiri dari induk dan dua Kepodang betina. Oleh sang induk, dua kepodang itu diberi nama Astha dan Kiwa. Rupa keduanya sangatlah elok. Bulu kuningnya bersih keemasan. Paruh mungilnya runcing dan berwarna merah muda. Bulu ekor yang berwarna hitam kecokelatan membuat mereka berdua terlihat memesona.
Walaupun Astha dan Kiwa sama-sama cantik, tapi peringai keduanya sangatlah berbeda. Berbeda dengan Astha yang penurut dan selalu mendengarkan kata-kata ibunya, Kiwa adalah seekor burung yang selalu mengabaikan perintah ibunya. Selain itu, Kiwa juga merupakan seekor burung yang sangat sombong. Dirinya selalu membanggakan rupa cantiknya dan betapa merdu suaranya. Dia menganggap dirinyalah satu-satunya burung yang berhak mendapat gelar burung terelok di tanah Jawa.

 

Pada suatu siang, ketika induk Kepodang dan Astha sedang sibuk mencari ranting-ranting kecil untuk menambal sarang mereka yang sudah mulai berlubang, Kiwa justru malah asik memamerkan suaranya sambil hinggap dari dahan satu ke dahan lainnya. Jika ibunya meminta bantuan, selalu saja ada alasan yang keluar dari mulutnya.
“Nak Kiwa, bantu ibu mengambil ranting kering di pohon Jati sebelah sana.” Kata induk Kepodang sambil menunjuk pohon Jati yang dimaksud.

 

Namun, bukanya mengiyakan Kiwa justru berkata, “Ah, tidak Bu, nanti paruh Kiwa kotor,” sambil mengibas-ibaskan paruhnya. Karena kesabarannya, akhirnya induk Kepodang dan Astha hanya membiarkan Kiwa kembali bernyanyi.

 
Sore harinya, induk Kepodang dan Astha hampir saja selesai memperbaiki sarang mereka. Namun, mereka masih membutuhkan beberapa lembar daun kering sebagai sentuhan terakhir untuk membuat sarang nyaman dan terlihat rapi. Sekali lagi, induk Kepodang dan Astha meminta bantuan Kiwa. Kali ini Astha yang berbicara.
“Kak Kiwa, mari bantu ibu untuk mengangkat daun kering dari pohon Mahoni di ujung sana,” kata Astha sambil menunjuk Mahoni yang dimaksud.

 

Lagi-lagi bukan jawaban ‘Iya’ yang keluar dari mulut Kiwa. “Beraninya kamu menyuruhku yang merupakan burung paling molek di tanah Jawa untuk mengangkat daun-daun kotor nan jelek. Jadikanlah itu pekerjaanmu saja.” Kata Kiwa sambil terbang meninggalkan Astha yang hanya bisa terdiam.
Jika tidak bernyanyi, Kiwa akan terbang dengan memberikan pengumuman kepada seluruh penghuni kebun. Kiwa selalu mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya burung tercantik. Rupa dan suaranya yang elok, membuat dirinyalah satu-satunya burung yang dibutuhkan oleh manusia. Kiwa berfikir, manusia membutuhkannya karena ingin melihat dan mendengar suara merdunya.
***

 

Keesokan paginya, induk Kepodang mengajak Astha dan Kiwa untuk pergi mencari makan. Karena perutnya yang lapar, dan karena di kebun tempat mereka tinggal sudah susah menemukan buah-buahan, akhirnya Kiwa mau mengikuti Astha dan ibunya untuk mencari makan di perkampungan manusia.

 

Setibannya di perkampungan manusia, mereka menemukan pohon pisang yang berbuah lebat dan masak. Lokasinya yang agak jauh dari rumah penduduk memudahkan mereka untuk makan sepuas mereka. Namun, bukannya senang, Kiwa malah pergi meninggalkan Astha dan ibunya dengan alasan ingin mencari makanan yang lebih mudah. Itu karena Kiwa tidak mau mengotori paruhnya dengan getah pisang. Dirinya juga tidak mendengarkan pesan ibunya yang mengatakan, apapun yang terjadi Kiwa harus menjahui rumah manusia.

 

Seperti biasa, Kiwa terbang sambil bernyanyi riang gembira. Kiwa tidak sadar bahwa dirinya telah terbang jauh dari Astha dan ibunya berada. Ketika sedang asyik terbang di pelataran rumah seorang manusia, Kiwa menemukan ada sebuah kotak cantik yang terbuat dari bambu. Kotak itu mempunyai pijakan dari beludru yang terlihat halus dan lembut. Di dalamnya juga terdapat pilinan kayu yang indah. Siapapun burung yang tinggal di situ pasti sangat beruntung, batin Kiwa. Ketika sedang melihat-lihat kotak itu dari kejauhan, Kiwa menangkap ada sesuatu yang terlihat mengkilap dan menggiurkan. Pisang yang sangat lezat, batinya lagi. Karena perutnya yang lapar, Kiwa masuk ke kotak tersebut dan mematuk pisang dengan lahapnya. Dirinya sangat bahagia karena merasa bisa mendapatkan makanan enak tanpa harus mengotori paruhnya. Namun, kebahagiaan dia tidak bertahan lama, karena saat itu juga pintu kotak cantik itu tertutup rapat.

 
Karena sudah waktu pulang tetapi induk Kepodang dan Astha belum juga bisa menemukan Kiwa, akhirya mereka memutuskan untuk mendekat ke salah satu rumah yang lokasinya paling dekat dengan pohon pisang yang tadi buahnya mereka makan. Namun, sesampainya di pekarangan rumah manusia, alangkah terkejutnya mereka berdua karena mendengar manusia berkata, “Kita tidak usah khawatir untuk acara Tujuh Bulanan nanti, burung Kepodang yang perlu kita makan sudah aku dapatkan.” Sambil menunjuk ke sarang burung yang berisi Kiwa yang ketakutan tak berdaya.



Categories: Indonesian Short Stories

Tags: , , , , ,

2 replies

  1. salam kenal dari blogger pasuruan.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: