Sepenggal Bebal di Bus Kota


 

                                                    Oleh: Riza Indri

Buskota-2-wordpress.com-bramono

“Belakang…belakang!” suara parau sang kernet terus saja memaksaku untuk terus mencoba membelah penumpang yang semakin tumpat. Ah, aku rasa dia tidak akan pernah peduli akan kekesalan para penumpangnya.

Bahkan, seorang penumpang yang mencoba protes pun tidak dia hiraukan. “Dasar para pengejar setoran!”

Kuakui sedikit geram memang. Sambil sesekali melihat wajah berminyak kernet itu, aku terus berusaha menemukan space untukku. Dan beruntung. Ada seorang ibu-ibu yang menawarkan berbagi space denganku. “Mriki1 mas, masih muat satu lagi!” dari logat bicaranya, aku menebak dia golongan orang ngapak2. Dengan berusaha ramah aku berterimakasih padanya.

Kalau mencari kenyamanan, tempat dudukku sangat jauh dari kata-kata itu. Bagaimana tidak, deretan tempat duduk belakang yang idealnya hanya diduduki empat sampai lima penumpang, kini diduduki enam penumpang. Lebih parahnya lagi, satu penumpang diantara kami memiliki badan tiga kali dari badanku. Ironis. Satu hal yang bisa membuatku sedikit bernafas lega, aku duduk didekat jendela. Kenapa? Setidaknya aku bisa menyaksikan pemandangan luar dari pada harus melihat wajah-wajah berminyak –kepanasan – para penumpang.

Sekarang bus berubah menjadi oven raksasa yang dengan detail memanaskan setiap inci dari kue-kuenya. Tidak bisa dipungkiri, hal itu semakin membuat geram para penumpang. Apalagi, ketika salah satu penumpang kembali bertanya kapan tepatnya bus akan berangkat, dan si kernet gembul dengan santai menjawab, “Nanti, kalau bus sudah penuh.” Sontak saja jawaban si kernet membuat suasana bus menjadi semakin panas. Bahkan kulihat ada seorang ibu-ibu muda yang balitanya mulai merengek kepanasan, berani mengeluarkan unek-uneknya. “Penuh-penuh, pak kenek kenapa bapak tidak ngenek pesawat saja, biar muat banyak penumpang. Lha wong, bus sudah penuh gini, masih aja mau naikin penumpang!” Sungguh seorang ibu muda yang pemberani.Dengan terpaksa aku berusaha menikmati keadaan ini. Ya, aku harus membayangkan ini surgakku sendiri.

“Mas, turun dimana?” sambil terus mengibaskan kipasnya, ibu-ibu di sampingku—tepatnya ibu-ibu yang menawari tempat duduk— bertanya ramah padaku.

“Saya turun di Yogyakarta bu,” kembali aku berusaha ramah padanya.

Tanpa aku menanyakannya pun, ibu-ibu kipas langsung nyerocos cerita tentang dari mana dia, mau ke mana, dan kenapa. Benar dugaanku, ibu-ibu kipas memang orang ngapak. Dia berasal dari Purwokerto. Dari obrolan kami, aku tau dia sedikit mirip dengan ibuku. Atau memang semua ibu akan seperti itu? selalu ingin tau dan khawatir terhadap anaknya.

Kini bus yang sedari tadi membuat penumpangnya kesal ini, mulai merangkak menyusuri bentangan garis aspal. Hal ini membuat wajah-wajah para penumpang yang kebagian tempat duduk sedikit lega. Mereka mulai melakukan aktifitas untuk mengisi perjalanan mereka. Ada yang mulai sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada juga yang mulai menyenderkan kepalanya untuk mengarungi dunia mimpi. Kulihat ada seorang bapak-bapak berkumis irit menatap iri ke seorang ibu-ibu yang sedang berbasa-basi kepada anak perempuannya, bertanya tentang apakah anaknya mempunyai pekerjaan rumah dari sekolahnya? Lucu. Entah apa yang bapak-bapak berkumis irit itu irikan. Entah tentang anak perempuannya ataukah tentang tempat duduknya. Kalau tebakkanku, itu tentang tempat duduknya. Karena memang bapak-bapak berkumis irit tadi sudah berdiri bahkan sejak bus masih tenang berdiam diri. Perlu diketahui, balita anak ibu-ibu pemberani tadi sudah tidak menangis lagi, dia sudah terlelap di alam mimpi.

Kulihat penumpang di deretan bangkuku sudah pada terlelap sendiri-sendiri. Mungkin mereka tidak akan pernah menyadari bahwa deruan bus ini lebih mirip dengan batuk kakekku di rumah. Berderu lemah tapi pasti, dengan diiringi decitan sesekali. Baiklah aku pun harus mulai mencari aktifitasku sendiri. Ah, melihat ibu-ibu kipas tadi, aku jadi semakin teringat ucapan ibuku sebelum berangkat tadi.

Le, ibu kepingin ke kosanmu, ibu juga pingin berkunjung ke tempat kerjamu. Kapan ibu mau diajak? Bahkan pertanyaan sederhana dari ibuku, aku tak bisa menjawabnya. Sebenarnya bukannya tak bisa, tetapi memang aku tidak memiliki jawabannya.

“Ini Bu, uang buat membayar SPP Rani.” Untuk mengalihkan pembicaraan, aku menyodorkan uang seratus ribuan dua lembar kepada ibu.

Melihat hal tersebut ibuku langsung lupa tentang pertanyaannya, dan berganti dengan ucapan terimakasih dan segudang doa tulus untukku. Ah ibu, aku jadi semakin ingin membahagiakanmu. Biar sedikit kuceritakan tentang diriku. Aku anak sulung dari dua bersaudara. Adikku seorang perempuan yang masih kelas satu sekolah menengah. Itupun dengan beasiswa, berkat kepintarannya. Adikku memang sangat berbeda denganku. Mungkin dia mewarisi sifat ayah sedangkan aku sifat ibuku. Aku bukan orang pintar apalagi sampai mendapatkan beasiswa. Ah, aku hanya orang yang mampu membaca, menulis dan berhitung saja. Oleh sebab itu sekolahku tidak sampai SMA seperti adikku. Namun, karena pengalamanku aku mampu menutupi kekuranganku. Apalagi tentang berpakaian. Kalau aku sudah berpakaian orang-orang tidak akan mengira bahwa aku hanya lulus SMP saja. Hidup di kota memang benar-benar sangat membantuku untuk mengikuti trend berpakaian.

Teriakan penjual buah di bus membuyarkan lamunanku. Penjual itu berisik sekali. Dia memberikan tester jeruknya kesetiap penumpang termasuk aku. Lumayan lah, untuk sekedar membasahi tenggorokan. Aku berharap ocehan penjual jeruk tadi tidak membangunkan orang-orang yang sudah nyaman dalam dunia mimpinya, terutama orang-orang yang duduk sederet denganku. Biarlah mereka merasa nyaman sampai ke tempat tujuan.

Pahaku mulai pegal. Lagi-lagi aku beruntung karena si kernet sudah berteriak “Pasar Gamping siap-siap…Pasar Gamping siap-siap!” leganya…itu tandanya tempat tujuanku sudah dekat. Aku memang turun di Pasar Gmping. Seperti biasa teman-teman kerjaku akan menungguku di sana.

Sambil menunggu bus berhenti di Pasar Gamping. Sesekali aku memerhatikan keadaan. Sekilas kulihat beberapa anak punk genjrang genjreng bermain gitar di jalan. Mereka benar-benar preman. Melihat hal tersebut, sepasang kakek nenek di depanku menjadi mempunyai topik bembicaraan. Setelah dari tadi kuperhatikan mereka hanya saling bungkam di sepanjang jalan.

“Kek, kata anak kita sekarang tambah rawan. Banyak aksi penjambretan, pencopetan, hipnotis, ah pokoknya mengerikan.” Si nenek mulai membuka pembicaraan. “Pasti pelakunya para brandal-brandal seperti tadi.”

Dengan santai dan agak tidak begitu memedulikan si kakek menjawab “Ya, sudah kita harus berhati-hati sama berandal-berandal seperti tadi.”

Sebelum bungkam kembali, si nenek menimpali “Sudah kumal, anting dipakai di mana-mana, aku yakin pasti mereka para pelaku kriminal kota.”

Mendengarkan obrolan mereka, dalam hati aku sedikit tertawa. Lucu. Orang-orang menilai orang lain hanya dari cara berpakaian dan penampilan mereka. Syukurlah aku termasuk orang yang berpakaian wangi dan rapi, jadi orang-orang tidak akan mengumpatku seperti yang dilakukan terhadap para berandalan tadi.

Akhirnya aku sampai di Pasar Gamping. Sebelum kakiku melangkah keluar dari bus, lamat-lamat kudengar ucapan seorang lelaki, “Iya, sekarang banyak pencopet. Apalagi di angkutan umum seperti ini.” Hanya itu yang aku dengar. Biarlah.

Sedikit menyebalkan, teman-temanku belum ada satu pun yang menjemputku. Sambil terus berdiri aku mengamati keadaan di sekitarku. Untuk saat ini hanya itu yang bisa aku lakukan. Tidak berada jauh dariku seorang nenek-nenek bertangan satu menarik perhatianku. Dia seorang penjual rebung. Di depannya tergeletak lima bungkusan kecil rebung. Dari yang kudengar satu bungkus di banderol seharga dua ribu lima ratus rupiah. Aku jadi terharu. Dan betapa terkejutnya aku ketika nenek bertangan satu menolak uang pemberian orang yang hanya iba kepadanya, dan bukan untuk membeli dagangannya.

Dengan tegas nenek bertangan satu menjawab, “Tidak terimakasih, saya di sini untuk bekerja bukan untuk meminta-minta.”

Melihat kelakuan nenek tangan satu tadi, seketika ombak bergejolak di dalam dadaku. Aku tercekat. Pipiku memanas. Entah apa yang aku rasakan. Semuanya campur menjadi satu. Andai aku wanita, pasti aku sudah menangis. Aku malu. Benar-benar merasa malu.

Woi, Selamet.” Rojak teman kerjaku menepuk bahuku. “Nunggu lama ya? Gimana hari ini?”

Lidahku begitu kelu. Alhasil aku hanya terdiam. Itu karena gemuruh di dadaku masih sama besar seperti waktu lalu. Perasaanku masih campur aduk. Aku kehilangan kendali atas diriku. Badanku bergetar. Untuk mencegah Rojak bertanya, aku segera mengeluarkan semua isi ransel cokelatku –ransel yang selalu setia menempel di punggungku. Setelah semua isi sudah aku keluarkan, aku segera memberikannya pada Rojak. Rojak tampak begitu bahagia menatap dompet-dompet yang tergeletak di tangannya. Tidak apa, aku akan membiarkan Rojak bahagia menatap hasil kerjaku kali ini. Setidaknya untuk yang terakhir kali. Karena aku berjanji, aku tidak akan pernah nyopet lagi.

 

 

1 Mriki : bahasa jawa yang artinya kesini.

2 ngapak: bahasa orang jawa yang biasanya menggunakan kata nyong dalam menyebut

aku.



Categories: Short Stories

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: